Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Januari 2015

Dosa yang merusak pernikahan

DOSA YANG MERUSAK PERNIKAHAN

a. Suami:
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dengan baik, akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan Istri nomer satu dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan Istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah minta maaf.

b. Istri:
1. Istri tidak menghargai Suami sebagai otoritas.
2. Istri gagal menundukkan diri kepada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.

Kebutuhan seorang Suami:
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yang rapi.
4. Istri yang menarik.
5. Saling menghargai.

Kebutuhan seorang Istri:
1. Kasih sayang dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen terhadap keluarga.

Ingat!
Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yang lain akan mengikuti. Kepala keluarga yang gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.

Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan  kehadiran dan pertolongan Tuhan.

Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yang rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata.

Belaian tangan suami adalah emas bagi istri.

Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami.

Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri.

Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami.

Perbaikilah apa yang bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat.

Cintailah pasangan yang telah Tuhan pilih untukmu!

If you care about family, broadcast this. It will save a marriage.

Semoga Tuhan memberkahi Pernikahan KITA!!!

Bagi yang belum Menikah, semoga ini bisa menjadi bekal kelak bila Anda menghadapi hidup Pernikahan

Rahayu...Rahayu...Rahayu

Sabtu, 22 November 2014

Uruslah Urusanmu Sendiri

Uruslah Urusanmu Sendiri

Betapa enaknya, jika Anda dapat mengurusi masalah Anda sendiri tanpa banyak campur tangan orang lain. 

Sang Buddha menasehatkan : 
"Janganlah engkau memperhatikan kesalahan orang lain dan hal-hal yang dikerjakan maupun yang tidak dikerjakan oleh orang lain, karena engkau sendiri juga mempunyai kewajibanmu sendiri yang dilaksanakan maupun dilalaikan."
Nasehat lain dari Sang Buddha : 
“Ia yang menggamati kesalahan orang lain dan senantiasa lekas marah, maka kekotoran batinnya akan bertambah, ia akan jauh dari penghancuran kekotoran batin."

Cara memandang hidup

Cara memandang hidup

Untuk dapat melihat kehidupan ini, mari perhatikan 3 contoh berikut ini

Contoh 1, Cara Memandang hidup

Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring, sedangkan ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. 
Mendadak, dr arah dapur terdengar suara piring yang pecah, kemudian sunyi senyap. 
Si putra memandang ke arah ayahnya dan berkata, "Pasti ibu yang memecahkan piring itu."
"Bagaimana kamu tahu?" kata si Ayah. 
"Karena tak terdengar suara dia memarahi orang lain," sahut anaknya.
Kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, sehingga acapkali kita menuntut orang lain dengan serius, tetapi memperlakukan diri sendiri dengan penuh toleran

Merubah Musuh menjadi teman

Merubah Musuh menjadi teman

Dalam sebuah kampanye, seorang senator mengatakan pada Abraham Lincoln, 

”Kalau Anda maju, ingatlah bahwa Anda hanyalah anak seorg tukang sepatu”. 
Mendengar pernyataan itu, Lincoln hanya tersenyum. Ia maju ke atas mimbar dan memulai pidatonya yang singkat, 
”Terima kasih sudah mengingatkan saya pada ayah saya yang sudah lama meninggal. Setahu saya, ayah sayalah yang membuat semua sepatu Anda sekalian. Jadi jika Anda sekalian mungkin merasa tidak cocok dengan sepatu yang Anda pakai sekarang, biarkan saya memperbaikinya”.
Mendengar perkataan Lincoln, seluruh hadirin bertepuk tangan meriah. 
Bahkan para lawan politiknya tersenyum dan menaruh simpati pada Lincoln.